ASS.....
Para muslimin yang dirohmati Alloh.
baik, pada postingan kali ini akan kita kupas secara mendetail tentang bagaimana kehidupan di dua tempat yang masing - masing dari diri kita nanti akan menjumpainya.
secara kodrati mungkin dibenak kita pernah terlintas dan membayangkan bagaimana dahsyatnya neraka.
Tidak ada satu makhluk pun di dunia ini yang sanggup menahan bagaimana sakitnya, perihnya siksa. ya....saya tidak mempunyai perbendaharaan kata yang cukup untuk mengungkapkan betapa sakitnya tersiksa di neraka.
Bayangkan saja, pakaian ahli neraka yang diletakkan di antara langit dan bumi maka niscaya seluruh makhluk akan mati karena mencium bau busuknya.
Sebenarnya ini adalah gambaran akhir dari siksa kubur. Seseorang yang di dalam kuburnya saja sudah di adzab, besar kemungkinan untuk mencicipi neraka.
dalam sebuah riwayat hadist nabi bersabda :
Para muslimin yang dirohmati Alloh.
baik, pada postingan kali ini akan kita kupas secara mendetail tentang bagaimana kehidupan di dua tempat yang masing - masing dari diri kita nanti akan menjumpainya.
secara kodrati mungkin dibenak kita pernah terlintas dan membayangkan bagaimana dahsyatnya neraka.
Tidak ada satu makhluk pun di dunia ini yang sanggup menahan bagaimana sakitnya, perihnya siksa. ya....saya tidak mempunyai perbendaharaan kata yang cukup untuk mengungkapkan betapa sakitnya tersiksa di neraka.
Bayangkan saja, pakaian ahli neraka yang diletakkan di antara langit dan bumi maka niscaya seluruh makhluk akan mati karena mencium bau busuknya.
Sebenarnya ini adalah gambaran akhir dari siksa kubur. Seseorang yang di dalam kuburnya saja sudah di adzab, besar kemungkinan untuk mencicipi neraka.
dalam sebuah riwayat hadist nabi bersabda :
اَكْثَرُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ مِنَ الْبَوْلِ
"kebanyakan yang menyebabkan seseorang disiksa di dalam kuburnya adalah karena tidak bisa menjaga najis (kencing)".
Saudara, ini adalah hal yang sangat remeh. Namun apabila kita tidak Mutawari' dalam mensucikan diri, kutipan hadist di atas dapat kita jadikan referensi sekaligus bahan koreksi bagi diri kita.
Seseorang yang tidak suci / kurang suci dalam menjaga najis kencingnya, walaupun sebesar titik jarum maka itu hukumnya tetap adalah najis. Sedangkan seseorang yang dalam keadaan najis, saat melakukan ibadah Sholat, kenapa Sholat?
karena ini adalah ibadah yang paling vital. kalau sholatnya saja dalam keadaan najis, maka secara otomatis ibadah sholatnya tidak diterima oleh Alloh SWT.
sedangkan dalam hadist lain nabi Muhammad SAW menegaskan :
اَوَّالُ مَا يُحَسَبُ بِهِ الْعَبْدُ عِنْدَاللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ صَلَاتُهُ
"amal ibadah yang pertama kali dihitung oleh alloh SWT pada hari kiamat dari seorang hamba, adalah amalan sholatnya ".
Dikutip dari hadist Ibnu Majah Jilid 3, diriwayatkan bahwa besok pada hari kiamat akan ada dua orang hamba yang masing - masing dari mereka kepalanya dicelupkan ke dalam neraka dan surga. Saat salah seorang dari mereka kepalanya dicelupkan ke dalam surga, sak celupan saja, kemudian ditanya :
"wahai anak adam, ceritakanlah bagaimana kehidupanmu sewaktu di dunia ? "
"aku tidak tahu apa yang aku rasakan sewaktu di dunia
begitu pula dengan sebaliknya, betapa dasyatnya siksa neraka sampai seseorang yang sewaktu hidup di dunia saja tidak lagi merasakan kenikmatan yang dia rasakan.
bagaimana dengan firman alloh yan dijanjikan untuk orang-orang kafir,
خَلِدِيْنَ فِيْهَا اَبَدًا
"mereka akan kekal di dalam neraka selama-lamanya"
Batasan selama-lamanya disini adalah tidak tahu sampai kapan, karena perhitungan di akhirot adalah kuasa alloh SWT.
diibaratkan sakit gigi itu masih berkelang, masih ada jeda antara sakit dan nikmat, beda halnya dengan dii neraka, sakit dan sakiiiiiiit terus.
minuman mereka dari air panas, nanah wok, dan duri jakum. duri yang apabila di makan akan tersangkut di tenggorokan, nanah wok yang apabila ditelan akan merontokkan usus di dalamnya.
sungguh peristiwa yang mengerikan. ini bukan perkara yang mudah. sebuah perkara yang suatu saat pasti akan kita hadapi. semoga ini menjadi pelajaran bagi kita semua. . . .
semoga Alloh memberkati kita semua. . . .
WASS. . . .
